Puncak Perayaan Hari Santri 2021, PCNU Kabupaten Banjarnegara adakan Malam Refleksi serta Peringatan Maulid Nabi 1443 H

  • Bagikan

Banjarnegara, Pelajarnu-bara.or.id – Semarak perayaan Hari Santri Nasional 2021 disambut bahagia oleh berbagai kalangan walaupun masih dilaksanakan secara sederhana karena pandemi Covid-19 belum juga usai. Untuk itu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banjarnegara telah melaksanakan beberapa agenda sesuai harapan, puncaknya di acara Malam Refleksi Hari Santri Nasional 2021 sekaligus sebagai Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H pada hari Kamis, (22/10) di Gedung Aswaja NU Center Banjarnegara.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan Mauliddiba’ oleh grup rebana Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Banjarnegara, dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kejuaraan Lomba Mars Syubanul Wathon virtual yang sebelumnya telah diikuti oleh Pondok Pesantren, tingkat SD/MI, serta tingkat SMP/Mts, SMA/MA.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Banjarnegara KH. Zahid Chasani dalam hal ini berkesempatan membacakan poin-poin penting dalam sejarah Resolusi Jihad, yang mana Resolusi Jihad inilah yang menjadi salah satu dasar ditetapkannya Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Sejarah ini harus selalu dikenang sebagai salah satu bukti sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

“Jadi esensi hari santri itu ya Jas Hijau dan Jas Merah. Jas Hijau itu jangan sekali-kali melupakan sejarah ulama, nah setelah itu berkaitan dengan Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” ungkap KH. Zahid Chasani disela penyampaian poin sejarah Resolusi Jihad.

KH. Mujtahidi Thoblawi mengatakan bahwa hari santri itu tidak bisa lepas dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU), “karena NU itu induknya pesantren, NU lahir dari pesantren, jadi erat kaitannya hari santri dan NU.”

Rois Syuriah PCNU Kabupaten Banjarnegara ini juga mengingatkan kembali tentang pentingnya menjaga pesantren dengan sistem salaf atau tradisional walaupun sudah ada pendidikan formalnya. “Walau sudah ada pendidikan formal, sistem salaf harus tetap dipertahankan. Jangan sampai hanya dijadikan asrama, tidak ada kiai yang mengajar mengaji. Malah nanti jadinya bukan pesantren, tetapi boarding school,”

KH. Mujtahidi Thoblawi diakhir mauidzoh khasanahnya ini juga berpesan kepada para santri, termasuk kader IPNU-IPPNU untuk selalu menjaga akhlakul kharimah kepada para alim ulama, serta harus selalu menjunjung rasa hormat kepada para alim ulama.

  • Bagikan